Seiring berjalannya waktu, berantemnya sedikit longgar. Berantem sudah jarang, dan mulai muncul kebahagiaan yang selalu datang.
Tapi sayang, kamu ketahuan selingkuh dibelakangku. Meski dengan segala alasan kebaikanmu untuk membantunya, tapi itu tetap hal yang salah yang tak bisa aku terima.
Bodohnya aku, masih memberi kesempatan padamu meski aku udah dikhianati. Hanya karena aku yakin kamu orang yang baik hati.
Berantem sesekali mungkin hal yang wajar, tidak sesering saat baru menjadi pacar. Walau kadang mata sering berbinar-binar karna kecewa yang tak sanggup terlontar.
Hari demi hari aku jalani hidupku denganmu, berharap masa depan yang cerah selalu menunggu. Sampai tak terasa musim sering berubah, ketika akhirnya 1 tahun sudah berlalu.
Aku dengan keberanianku menceritakan tentangmu kepada ibu. Setelah sebelumnya lama aku sembunyikan karena ragu.
Ibuku sangat senang mendengar kabar tentangmu, seperti membawa secercah harapan mendapat seorang menantu baru. Meski lama menunggu-nunggu, sampai 1 tahun lagi masih tak mampu bertemu.
Aku di sini berjuang, mencari cara agar bisa ke sana, sampai berjanji februari ingin datang. Aku kira kamu sudah siap semua, karena janjiku kamu terima.
Boom, badai datang tiba-tiba. Kita putus begitu saja. 1 minggu tidak bertemu, tapi aku di sini selalu menjaga.
Tapi entahlah, saat aku menjaga hatiku di sini, ternyata kamu sudah punya pengganti, bahkan menjalin status dan sering chatan dan telponan di sana. Sampai harapanku kembali hancur sirna.
Tiket pesawat, cincin, lamaran, pernikahan, semua pupus begitu saja. Mungkin janjiku datang ke sana kau anggap omong kosong semata. Bahkan aku sempat ngasih kado boneka dan skin care buat kado perpisahan kita.
Bodohnya aku, sekali lagi ku terima kamu dikehidupanku, meski sudah 2 kali aku merasa dikhianati, tapi tetap saja hati ini sulit berganti. Mungkin karena sudah cinta mati.
Setelah batal pergi ke jawa, aku selalu berusaha agar bisa di terima. Bahkan saat kamu kehabisan pulsa, aku beranikan diri chat abi kamu, supaya kmu dijemput ditempat keluarga. Walaupun aku sendiri sadar, kehadiranku belum dianggap apa-apa.
Bulan oktober, aku minta kejelasan hubungan kita, karna 3 tahun sudah kita bersama, bagaimana posisiku bagi orang tuamu?
Kamu bilang abi setuju, di situ aku bahagia. Tapi ternyata harus izin ke nenek lagi. Pas aku suruh nanya, kamu nangis-nangis ngomong ke nenek yang berakibat tidak tahu keputusan yang pastinya.
Aku hargai keberanianmu, tapi semuanya sudah dikejar waktu. Aku tidak enak dengan orang tuaku, karna sudah lama menunggu.
Bulan November aku minta kamu untuk menanyakan kembali kejelasannya, tapi semua serba tertunda. Entahlah, aku mulai pasrah dan putus asa. Rasanya udah gak ada nyawa. Padahal aku masih di Kota, kalau ada apa-apa aku enak ngomongnya.
Bulan Desember datang, kamu sering ketemu nenek tapi selalu ada halangan. Sampai seolah-olah seperti sengaja diulurkan. Sampai aku memberi pilihan. Nanya secepatnya atau kita putus saja.
Akhirnya di akhir desember baru ada kejelasan. Nenek bilang nunggu kakak wisuda, eh wisudanya bulan ramdhan tahun depan. Aku udah gak tau lagi harus berkata apa. Mau ngomong dengan keluargamu, aku tidak nyaman dengan keluargaku, karena sekarang aku sudah balik ke desa di rumah orang tua.
Emosi, kesal, mengapa baru sekarang bilangnya? Kalau dari dulu sudah ditanyakan dan mendapat jawaban, mungkin aku masih bisa banyak berusaha (bujuk nenek, nelpon abi, dll)
Btw, makasih sudah berusaha membahagiakanku selama ini, aku hargai semua perjuanganmu. Mungkin kita bukan jodoh saja. Karna sekuat apapun kita berusaha, selalu gagal dan berakhir kecewa.
Maaf juga atas perbuatan dan perkataanku selama ini, kalau dibilang kecewa, aku memang kecewa, makanya semua kata keluar begitu saja. Kecewa dengan keadaan yang berujung marah-marah ke kamu. Maaf jika kamu jadi sasarannya, padahal kamu juga korban dari aturan keluarga.
Aku hanya bisa bilang, mungkin bukan jodoh. Karena aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa. Aku bahkan melakukan hal diluar kewajaranku, menunda semua yang kumau demi mendapatkan kamu:
- Aku menunda beli sepeda motor karena aku takut uangku habis banyak saat melamarmu di sana.
- Aku nunda beli rumah, karena aku nunggu kamu ke sini, memperkenalkan kota pontianak, singkawang, dan sambas. Lalu nanya kamu, kamu lebih suka suasana dimana agar kita bangun rumahnya di sana.
- Aku menolak banyak cewek demi bersama kamu. Bahkan cewek melamarku pun aku tolak.
- Aku menjauh dari teman-temanku hanya untuk membuatmu tenang dan gak bertanya-tanya.
- Bahkan menunda umurku, yang semakin hari semakin tua.
0 komentar:
Posting Komentar