Setiap kali aku menjalin hubungan dengan seorang wanita, mereka sangat menghormatiku dan nurut terhadap ucapanku.
Walaupun mereka bukan anak pesantren dan bukan dari keluarga yang begitu paham agama. Tapi akhlak mereka terhadap pasangan sangat membuatku merasa nyaman.
Tapi entah mengapa, kamu yang dikenal sebagai anak pesantren, anak kiyai, paham agama, dan besar dari keluarga yang terpandang, tapi tidak mencerminkan sikap dan akhlak yang bisa jadi panutan. Bahkan lebih buruk daripada wanita biasa yang tidak mengenyam pendidikan agama.
Mungkin benar kata Profesor Dr. H. Fakhruddin Faiz, S.Ag., M.Ag, anak pesantren itu cenderung lebih nakal dibanding anak orang biasa, karena mereka sebelumnya merasa terkekang dipesantren, begitu keluar dari pesantren, jiwa ingin bebasnya meronta-ronta hingga melahirkan sikap yang kelewatan batas. Aku jadi takut anakku nanti dimasukkan ke pesantren setelah mengenalmu.Munafik
Begitu ku mengingatmu, ada satu kata yang terlintas dibenakku, yaitu kata munafik.
Bagaimana tidak? Setiap kau berkata, kau berdusta. Setiap kau berjanji, selalu kau ingkari. Berkali-kali dikasih kepercayaan, kau justru berkhianat.
Terlalu banyak alasan yang kau utarakan, tapi tak sesuai dengan kenyataan. Mungkin kau lupa, sejak pertama kali pertemuan kita, kau sendiri sudah banyak melakukan kebohongan-kebohongan.
Mungkin memang benar, suatu hubungan yang diawali dari hal yang tidak baik akan berakhir dengan cara yang tidak baik pula.
Semua itu tak akan pernah ku lupa, karena satu-satunya mantan yang berani melakukan itu semua ke aku cuma kamu. Parahnya kau menyalahkanku karena kesalahan yang kau perbuat. Lucu ya. Ingatlah, karma itu ada.
Sungguh aku tidak merasa rugi kau sakiti, tapi kamulah yang akan rugi karena telah menyia-nyiakan cowok yang tulus mencintaimu dan pernah setengah mati berusaha menikahimu meski jalannya berliku.
0 komentar:
Posting Komentar